Jakarta, 25 April 2026 — Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta menyelenggarakan Pelatihan Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) sebagai langkah strategis dalam memperkuat mutu akademik dan transformasi kurikulum pendidikan tinggi. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Jumat–Sabtu, 24–25 April 2026, bertempat di Auditorium Lantai 2 Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta.

Pelatihan ini diikuti oleh seluruh dosen Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta, baik secara luring di auditorium maupun secara daring melalui Zoom. Sejak hari pertama hingga sesi akhir, peserta tampak mengikuti kegiatan dengan antusias, aktif berdiskusi, dan terlibat dalam pendalaman teknis penyusunan kurikulum berbasis capaian pembelajaran.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor I Universitas PTIQ Jakarta, Prof. Dr. Made Saihu, M.Pd.I. Dalam forum ini, Pascasarjana menghadirkan dua narasumber, yaitu Yusuf Nalim, S.Si., M.Si., dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, dan Prof. Dr. Fajri Ismail, M.Pd.I., dosen UIN Raden Fatah Palembang. Keduanya mendampingi pelatihan selama dua hari secara bergantian dan saling melengkapi dalam menjelaskan aspek konseptual, regulatif, hingga teknis-operasional kurikulum OBE.
Selama pelatihan, peserta mendalami enam pokok materi utama, yaitu konsep dan kebijakan kurikulum OBE, penyusunan visi keilmuan, Program Educational Objectives atau PEO, profil lulusan, penyusunan Capaian Pembelajaran Lulusan atau CPL dan bahan kajian, organisasi mata kuliah dan peta kurikulum, penghitungan bobot SKS mata kuliah, serta teori pengukuran ketercapaian CPL.
Dalam pemaparannya, para narasumber menegaskan bahwa kurikulum OBE menempatkan capaian pembelajaran sebagai pusat pengembangan kurikulum. Pemerintah menyediakan kerangka umum dan pedoman penyusunan kurikulum pendidikan tinggi, sementara perguruan tinggi memiliki ruang untuk menyusun kurikulumnya masing-masing dengan memperhatikan visi-misi institusi, Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia atau KKNI, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebutuhan pemangku kepentingan, serta karakter keilmuan program studi.
Karena itu, perumusan visi keilmuan, PEO, profil lulusan, dan CPL tidak dapat dilakukan secara terpisah atau sekadar administratif. Seluruhnya harus disusun secara runtut, spesifik, dan mencerminkan identitas keilmuan program studi. Dalam konteks Universitas PTIQ Jakarta, misi kelembagaan juga perlu mewarnai rumusan CPL agar kekhasan lulusan benar-benar tampak dalam mata kuliah penciri, pengalaman belajar, dan proses pembelajaran mahasiswa.
Para narasumber juga mengingatkan bahwa CPL tidak boleh berhenti sebagai dokumen kurikulum. CPL harus dipahami oleh dosen, diinformasikan kepada mahasiswa, diturunkan ke dalam mata kuliah, kemudian dirumuskan lebih lanjut dalam CPMK, sub-CPMK, bahan kajian, metode pembelajaran, bentuk asesmen, dan Rencana Pembelajaran Semester atau RPS. Dengan demikian, setiap mata kuliah memiliki kontribusi yang jelas terhadap profil lulusan yang hendak dibentuk.
Pada sesi pendalaman, peserta diajak melihat kurikulum OBE secara lebih operasional. Alur penyusunan kurikulum dimulai dari profil lulusan dan CPL pada tingkat program studi, lalu diturunkan menjadi CPMK pada tingkat mata kuliah, dan dirinci kembali menjadi sub-CPMK pada tingkat pertemuan. Dari alur tersebut, bahan kajian, struktur mata kuliah, peta kurikulum, dan bobot SKS dapat ditetapkan secara lebih logis, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pelatihan juga menekankan bahwa OBE tidak cukup berhenti pada perumusan tujuan pembelajaran. Kurikulum berbasis outcome harus didukung oleh sistem penilaian yang tepat, mulai dari indikator keberhasilan, metode asesmen, teknik penilaian, instrumen pengukuran, hingga pemanfaatan hasil evaluasi untuk perbaikan berkelanjutan. Peserta mendalami hubungan antara outcome, asesmen, hasil penilaian, evaluasi pembelajaran, dan tindak lanjut peningkatan mutu.
Materi pengukuran CPL menjadi salah satu bagian penting dalam pelatihan ini. Para peserta diajak memahami bagaimana ketercapaian CPL dapat diukur melalui penilaian formatif dan sumatif, dengan memperhatikan domain kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan cara ini, kurikulum tidak hanya dinilai dari kelengkapan dokumen, tetapi juga dari bukti ketercapaian pembelajaran mahasiswa.
Suasana pelatihan berlangsung serius, tetapi tetap hangat dan dialogis. Peserta yang hadir di auditorium maupun melalui Zoom mengikuti rangkaian sesi hingga selesai. Diskusi berlangsung dinamis, terutama ketika narasumber membahas penyusunan CPL, keterkaitan antara mata kuliah dengan profil lulusan, kesetaraan tugas akhir, penghitungan SKS, dan strategi asesmen dalam kurikulum OBE.

Melalui kegiatan ini, Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta menegaskan komitmennya untuk membangun kurikulum yang lebih adaptif, terukur, dan berorientasi pada capaian lulusan. Pelatihan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan program studi dalam menghadapi tuntutan mutu akademik, akreditasi, dan kebutuhan pendidikan tinggi yang terus berkembang.
Lebih dari sekadar penyesuaian format dokumen, kurikulum OBE menjadi strategi penting untuk memastikan bahwa visi keilmuan, profil lulusan, CPL, mata kuliah, proses pembelajaran, dan asesmen berjalan dalam satu tarikan napas yang utuh. Dengan demikian, kekhasan keilmuan Universitas PTIQ Jakarta tetap hidup dalam desain kurikulum sekaligus relevan dengan kebutuhan zaman. #aa#