Sejarah PTIQ

“Institut PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an) adalah perguruan tinggi pertama di dunia yang secara khusus menghafal dan mempelajari Al Qur’an”.

Dua tahun setelah PTIQ berdiri, Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, membuka fakultas khusus ilmu Al Qur’an, dan PTIQ berperan sebagai inspiratornya. Sudah seperempat abad lebih PTIQ berdiri. PTIQ didirikan pada 1 April 1971. Pendirinya adalah Yayasan Ihya Ulumudin yang dikelola KH. Mohammad Dahlan (Menteri Agama 1967-1971), Prof. KH. Ibrahim Hosen, LML, dan KH. Ahmad Zaini Miftach (Imam Besar Masjid Istiqlal). Namun, pada tanggal 12 Mei 1973 pengelola Institut ini diserahkan kepada Yayasan Pendidikan Al-Qur’an yang didirikan oleh Letjen (Purn.) DR. H. Ibnu Sutowo. Kini, yayasan itu diteruskan oleh salah seorang putera Ibnu Sutowo yaitu H. Ponco Susilo Nugroho.

Pendirian PTIQ dilatarbelakangi kesadaran semakin langkanya ulama ahli Al-Qur’an (terutama para hafiz), sementara kebutuhan masyarakat Indonesia akan ulama yang ahli di bidang Al-Qur’an sangat mendesak. Terlebih lagi sejak Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional I di Makassar pada bulan Ramadhan tahun 1968 menjadi jadwal rutin.

Keberadaan para ulama ahli Al-Qur’an ini sangat terasa, sehingga tak kurang Presiden Republik Indonesia, Soeharto dalam amanatnya pada MTQ Nasional III di Banjarmasin mengingatkan pentingnya meningkatkan upaya penghayatan dan pemahaman kitab suci Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia.

Sejak berdiri hingga saat ini, lembaga pendidikan yang belokasi di Jalan Batan 1/2 (dulu Batan 1/63) Pasar Jumat, Lebak Bulus, Jakarta Selatan ini, secara berturut-turut dipimpin dan dikelola oleh ulama-ulama terkemuka negeri ini. Mereka adalah KH. Mohammad Dahlan, Prof. KH. Ibrahim Hosen, LML, Letjen (Purn.) DR. H. Ibnu Sutowo, KH. Syukri Ghazali, Prof. KH. Zainal Abidin Ahmad, Prof. Dr. KH. Bustami A. Ghani, Prof. Dr. KH. Chatibul Umam dan kini Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.

Saat PTIQ bertransformasi dari Perguruan Tinggi (sekarang setara Sekolah Tinggi) menjadi Institut, nama PTIQ pernah berubah menjadi Institut Studi Ilmu Al-Qur’an (ISIQ). Namun perubahan nama PTIQ menjadi ISIQ mengalami penolakan dari banyak pihak, alasannya nama PTIQ sudah ikonik terutama di kalangan alumnus juga masyarakat yang menggeluti dunia MTQ saat itu. Untuk mengembalikan nama PTIQ, namun tidak ingin timbul kerancuan jika ada dua bentuk dalam satu nama (Institut dan Perguruan Tinggi), maka ditetapkanlah nama Institut PTIQ Jakarta dengan akronim PTIQ yang dipertahankan tanpa ditulis kepanjangannya. Dalam format Institut ini lah PTIQ menjadi lebih berkembang dengan memiliki empat fakultas antara lain Syariah dengan program studi Ekonomi Syariah dan Hukum Keluarga Islam, Ushuluddin dengan program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Dakwah dengan Program studi Komunikasi Penyiaran Islam dan Manajemen Dakwah, dan Fakultas Tarbiyah dengan program studi Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Selain itu, PTIQ juga membuka program pascasarjana magister (S2) yang berjumlah tiga program studi yaitu Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Manajemen Pendidikan Islam dan Ekonomi Syariah serta doktoral (S3) dengan satu program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.