السلام عليكم ورحمة الله وبركاته      Pengumuman Kelulusan Jalur Testing     SELAMAT  Bergabung bagi Mahasiswa yang Lulus      Mau Kuliah Plus Menghafal Al-Qur'an? Ke PTIQ aja.
Home / Berita / Hadirkan Menteri, Pascasarjana PTIQ Gelar Seminar Nasional

Hadirkan Menteri, Pascasarjana PTIQ Gelar Seminar Nasional

Warta PTIQ – Seminar Nasional “Pembangunan Desa untuk Quranic Village” yang dilaksanakan oleh Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta berlangsung sukses pada Sabtu, 28 September 2019 dengan menghadirkan Eko Putro Sanjoyo yang menjabat sebagai Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Seorang pembicara lagi adalah Dr. Susanto, MA. yang adalah dosen tetap Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta sekaligus Ketua Komisi Perlindungan Anak.

Baik mahasiswa baru maupun mahasiswa lama, mendapatkan banyak informasi berharga.

Menteri Eko memahami bahwa desa jelas mengandalkan komoditas sebagai sumber ekonominya, tidak sebagaimana kota yang bisa saja mengandalkan distribusi, bukan barang.

Problem di desa adalah panjangnya mata rantai distribusi yang harus dilalui sebuah komoditas untuk sampai ke konsumen dan itu sangat merugikan masyarakat desa sebagai produsen. Namun urusan distribusi adalah urusan Kementerian Perdagangan. Karena itu, Kementerian Desa fokus pada bagaimana masyarakat desa memproduksi.

Salah satu problem komoditas masyarakat desa adalah terlalu beragamnya komoditas yang mereka produksi sehingga mempersulit distribusi. Karenanya, Kementerian Desa menggalakkan satu komoditas andalan untuk setiap desa dan masyarakat sendiri yang menentukan komoditas andalan mereka dibantu oleh Pemda.

Upaya seperti di atas sudah berhasil di beberapa desa dan meningkatkan omzet desa dari puluhan juta menjadi milyaran.

Adapun Ketua KPAI, Pak Susanto, menekankan pentingnya desa yang ramah anak. Dasar berfikirnya adalah kriminalitas yang dilakukan oleh anak, yang biasanya hanya ada di perkotaan, sudah merambah pedesaan dengan trend yang semakin meningkat.

Salah satu faktornya, menurut Ketua KPAI, desa yang sudah tidak lagi ramah anak. Kota yang tidak ramah anak memang sudah menjadi kenyataan, namun desa yang tidak ramah anak adalah sesuatu yang masih bisa dicegah dan ditanggulangi.

Al-Quran sebagai Kitab Petunjuk harus bisa ditafsirkan secara bermanfaat bagi kehidupan, termasuk kehidupan di pedesaan. Jika selama ini penafsiran Al-Quran lebih sering berbicara tentang hal-hal besar, saat ini perlu pula penafsiran diarahkan kepada hal-hal yang tidak populer, tetapi bermanfaat besar bagi manusia.

Hanya belasan kali Al-Quran menyebut “kota”, namun lebih dari 50 kali Al-Quran menyebut kosa kata “desa”. Jika itu perbandingan mana yang lebih penting, maka desa tentu lebih penting.

Memang desa sering digambarkan di dalam Al-Quran sebagai tempat yang tidak beraturan dan penuh kekacauan, sedangkan kota adalah tempat yang tertib. Namun itu adalah tanda bahwa memang desa memerlukan perhatian besar dari semua pihak.

Tentu saja agak aneh jika penafsiran lebih sering membahas hal-hal besar dan hanya menjadi konsumsi masyarakat perkotaan, padahal di dalam Al-Quran sendiri, desa lebih sering disebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top