Meningkatkan Skill Public Speaking dan Jurnalistik, Fakultas Dakwah PTIQ Adakan Workshop

 

Warta PTIQ – Fakultas Dakwah Institut PTIQ menggelar workshop public speaking dan jurnalistik, kamis (11/4/2019). Workshop yang diadakan di Aula Kampus Institut PTIQ lantai 2 ini diikuti oleh hampir 100 peserta yang berasal dari para mahasiswa PTIQ dan mahasiswa dari luar.

Acara yang diprakarsai oleh Himpunan Mahasiswa Dakwah (HIMADA) PTIQ ini dilaksanakan karena mahasiswa PTIQ dan juga alumni banyak yang terjun dalam dunia dakwah sehingga mau tidak mau harus menguasai teknik public speaking.

Dekan Fakultas Dakwah Institut PTIQ, Taufikurrahman Bedowi, MA., dalam sambutannya menegaskan, berbicara dan menulis merupakan dua hal yang tidak bisa dilepaskan satu sama lain.

Karena itu, dengan adanya acara ini, “harapannya para alumni fakultas Dakwah nantinya memiliki bekal dua softskill ini,” lanjut Pak Taufik.

Pembicara pertama dalam workshop ini ialah Dr. Tubagus Wahyudi, ST., Msi., MCHt., CHI., seorang motivator nasional yang juga dosen di Institut PTIQ Jakarta.

“Jika anda belanja ke pasar tapi tidak tahu memasak buat apa?” tanya narasumber yang biasa dipanggil Om Bagus ini kepada para peserta.

Menurut founder KAHFI BBC Motivator School ini, sama jika kita menguasai banyak ilmu agama tapi kita tidak mampu menyampaikan, buat apa?

Menurut Om Bagus, kekuatan terbesar Rasulullah ialah sifat tabligh, yakni public speaking. Maka, untuk pandai berbicara kita harus tahu apa itu berbicara.

“Esensi berbicara adalah mengekspresikan pikiran. Jadi kalau pikirannya kacau maka berbicara pun kacau,” tegasnya.

Karena itu, penting sekali sebelum berbicara kita harus memperbaiki cara berpikir kita.

Narasumber selanjutnya ialah Roso Daras, pimpinan redaksi jakartanews.com yang berbicara tentang seluk beluk jurnalistik.

Ia memulai presentasinya dengan menampilkan kutipan Edward Bulwer Lytton, “Pena lebih tajam dari pedang.”

Dalam dunia jurnalistik dikenal setidaknya tiga macam tulisan yaitu berita, feature, dan opini. Menurut mantan wartawan Jawa Pos ini, sebagaimana dikenal dalam dunia jurnalistik, berita dan feature harus mencakup 5W1H (Who, What, Where, When, Why, dan How).

Seorang jurnalis harus tahu fungsi berita yaitu informatif (menginformasikan kepada publik melalui liputan berita), Edukatif (mempengaruhi dan membentuk opini publik), menghibur, dan Whatchdog (memantau/mengkritisi akuntabilitas pejabat public).