PTIQ Gelar Seminar Internasional: Toleransi Agama dan Interaksi Damai Dengan Non Muslim

 

Toleransi Agama dan Interaksi Damai Dengan Non Muslim

Institut PTIQ Jakarta menggelar Seminar Internasional bertajuk “at Tasamuh ad Dini Wa at Ta’ayusy as Silmi Ma’a Ghairil Muslimin”, Kamis (08/02/2018). Seminar yang diadakan di Aula Kampus Institut PTIQ Jakarta ini dihadiri oleh Syeikh Mohammed Al Hosaini Farj utusan Al Azhar, Mesir sebagai pembicara kunci dan Syeikh Ahmad al Misry sebagai penerjemahnya. Selain itu, Dr. Ali Nurdin, MA, Wakil Rektor III PTIQ Jakarta, juga menjadi pembicara dalam seminar ini.

Dr. Ali Nurdin, MA dalam presentasinya menyampaikan beberapa karakteristik Islam Moderat.

Ada enam poin karakteristik yang ia uraikan yaitu: Memahami Realitas, Mengedepankan Kemudahan, Terbuka dalam Perbedaan, Memahami Fiqih Prioritas, Menghindari Fanatisme Berlebihan, dan Memahami Teks Secara Komprehensif.

Dalam salah satu uraiannya tentang karakteristik islam Moderat ini, Dr. Ali Nurdin, MA menyampaikan betapa pentingnya kita memahami teks ayat dan hadis secara komprehensif, tidak sepotong-sepotong.

“Kita harus membaca teks al Qur’an dan Hadis secara utuh, tidak hanya satu ayat dipahami tanpa ayat yang lain, karena bisa menimbulkan pemahaman yang sebenarnya tidak diinginkan oleh al Qur’an,” ujarnya.

Pemahaman parsial ini biasanya dilakukan oleh para teroris yang mengebom orang yang tidak bersalah hanya karena bukan memeluk Islam, misalnya, dengan hanya memahami satu ayat al Qur’an seperti dalam surat at Taubah ayat 5, yang berisi perintah membunuh orang musyrik di mana pun ditemukan.

Sementara itu, Syeikh Mohammed Al Hosaini Farj dalam paparannya menekankan bahwa Islam datang untuk membawa kedamaian, keadilan, dan berbuat baik. Beliau mengutip surat an Nahl ayat 90 yang berisi perintah untuk kebaikan dan larangan untuk berbuat kejahatan.

“Seandainya al Qur’an turun hanya dengan satu ayat ini niscaya sudah mencukupi untuk hidup damai di dunia ini,” ungkap beliau.

Beliau memberikan contoh teladan dari Nabi Muhammad bagaimana sikap beliau dengan non Muslim. Beliau bercerita tentang Fathu Makkah di mana Nabi membebaskan dan memaafkan orang-orang musyrik Makkah yang dulu pernah menganiaya, memboikot, membunuh sebagian dari kaum muslimin, dan memaksa Nabi dan para sahabat untuk Hijrah dari kota kelahiran mereka menuju Yastrib yang kemudian dikenal dengan Madinah.

Di samping itu, Nabi juga menikahi beberapa wanita yang berasal dari agama Nasrani atau Yahudi seperti Ummu Habibah, Saudah dan Mariyah al Qibtiyah.

Di Madinah, Nabi membangun komunitas yang terdiri dari beragam agama dan suku.

“Nabi membangun persaudaraan antar masyarakat yang berbeda dengan piagam Madinah, menyatukan hati mereka, melarang membunuh Yahudi, bahkan mereka beribadah di depan Rasul,” lanjut Syeikh Al Hosaini.

Menurutnya, sikap toleransi seperti ini juga terdapat di Mesir dan Indonesia. Di Mesir dulu tidak bisa dibedakan mana muslim dan non muslim sampai munculnya medsos karena semua orang yang berada di Mesir dan datang ke Mesir akan mengaku sebagai seorang “Misry” tidak peduli agama dan sukunya.

Sama seperti di Indonesia, “Di Indonesia kita tidak bisa membedakan muslim dan non muslim kecuali dalam masjid,” ungkap beliau, menirukan dialog dengan seseorang ketika baru datang pertama kali di Indonesia.

Di akhir pemaparannya, Syeikh al Hosaini mengajak untuk menggalakkan dialog antar agama sebagaimana telah dilakukan Mesir melalui Universitas al Azhar di bawah komando Syeikh Ahmad Tayyib, selaku Grand Syaikh al Azhar.

Acara ini ditutup dengan tanya-jawab dan doa yang dipimpin oleh Syeikh Ahmad al Misry.