eLKAF PTIQ Gelar Kuliah Umum  Tentang Al Qur’an dan Demokrasi Pancasila

eLKAF PTIQ Gelar Kuliah Umum  Tentang Al Qur’an dan Demokrasi Pancasila

Selasa, 10 April 2018, Lembaga Pengkajian Al Qur’an dan Tafsir (eLKAF) Institut PTIQ Jakarta menggelar kuliah umum yang ditempatkan di Aula Kampus Lantai dua. Kuliah umum yang digagas oleh direktur eLKAF, Dr. A. Husnul Hakim, ini bekerjasama dengan Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Tarbiyah. Al Qur’an dan Demokrasi Pancasila sebagai tema besar dalam kuliah umum ini menarik untuk diperbincangkan di tengah situasi saat ini. Karena itu, panitia penyelenggara mengundang Bapak Yudi Latif, MA, Ph. D, selaku Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila sebagai pembicara tunggal dalam kuliah umum ini.

Peserta yang berasal dari mahasiswa ushuluddin dan tarbiyah memenuhi ruangan aula kampus. Mereka menyimak dengan seksama pemaparan dari pemateri.

Pak Yudi Latif mengawali perbincangannya dengan membahas al Qur’an yang dimulai dengan kata “Bismillah” dan diakhiri dengan kata “an nas”. Dalam hal ini berarti ada dua komunikasi tak terpisah antara komunikasi vertikal yakni dengan Tuhan dan horizontal yakni dengan makhluk. Ternyata isi Pancasila juga hampir sama, dimulai tentang bicara ketuhanan dan sila terakhir tentang kehidupan sosial.

Karena itu, “ Ada semacam paralelisme antara semangat moral al Qur’an dan semangat moral Pancasila. Dimulai dengan mengagungkan sifat Tuhan dan diakhiri dengan keadilan sosial,” terang beliau.

Menurut beliau, manusia tidak terlepas dari instink ketuhanan. Namun, keterbukaan terhadap yang transenden (ketuhanan) tidak lantas berhenti di situ, tetapi harus turun ke bumi untuk membebaskan penderitaan kemanusiaan, melakukan emansipasi terhadap kehidupan manusia seluruhnya. Ringkasnya, “al Qur’an dimulai dari transendensi dan diakhiri dengan liberasi, pembebasan manusia dari berbagai belenggu; etnis, partai, material, duniawi dan lainnya yang merenggut kemanusiaan. ” lanjut beliau.

Maka, untuk merealisasikan hal tersebut, menurut beliau, kita harus menyadari fakta hidup tentang kemajemukan. “Kemajemukan itu bukan pangkal untuk menimbulkan kerusakan tapi untuk menciptakan kemaslahatan,” tegas beliau.