Seminar Problematika Pemuda Kontemporer Di PTIQ Jakarta

Seminar Problematika Pemuda Kontemporer Di PTIQ Jakarta

Rabu, 28 Maret 2018, PTIQ Jakarta mengadakan seminar tentang kepemudaan dengan menghadirkan pembicara dari para utusan Universitas Al Azhar, Mesir. Seminar yang dilaksanakan di Aula Ma’had PTIQ Jakarta ini menampilkan empat Narasumber. Satu dari PTIQ Jakarta dan tiga lainnya dari utusan Al Azhar, Mesir.

Seminar diikuti oleh para mahasiswa PTIQ dan dosen yang mengajar di Ma’had PTIQ Jakarta. Antusiasme para peserta tampak besar apalagi saat acara ini dibuka dengan pembacaan ayat suci al Qur’an menggunakan Qiraat Sab’ah oleh Ust. Hanin, salah satu dosen Ma’had PTIQ.

Dalam sambutannya untuk mewakili pihak kampus, H. Topikurohman Bedowi, MA, selaku Dekan Fakultas Dakwah PTIQ menjelaskan bahwa masalah pemuda bukan hanya masalah suatu bangsa tertentu tetapi juga masalah bangsa sedunia.

Narasumber pertama dalam seminar ini ialah Dr. H. Ali Nurdin, MA. Dalam pemaparannya, Wakil Rektor III PTIQ Jakarta, bidang kemahasiswaan ini menitik beratkan pada penanaman akhlak pada para pemuda.

“Akidah itu urusan kita dengan Allah, syariat seperti shalat juga urusan kita dengan Allah, tapi akhlak urusan kita dengan manusia,” jelas beliau.

Menurutnya, kriteria pribadi Islam yang baik adalah akhlaknya yang baik. “Akhlak itu kunci keberlanjutan umat dan akhlak adalah menjadi sumber cinta dan penghapus permusuhan,” lanjut beliau.

Tiga utusan Al Azhar juga tidak kalah menariknya dalam menyampaikan materi. Syaikh Samman Hasanin, sebagai narasumber pertama mengupas peranan pemuda dalam pengembangan masyarakat. Menurut beliau, pemuda adalah satu fase kekuatan yang berada antara dua fase kelemahan. Yaitu antara fase anak-anak dan fase orang tua.

Karena itu, pemuda dipuji oleh Allah dan Rasulnya. Pemuda yang mendalami ilmu dan sibuk dengan ketaatan merupakan salah satu yang dinaungi oleh Allah di hari kiamat.

“Pemuda harus bekerja keras untuk menghasilkan penemuan-penemuan dan inovasi positif agar umat Islam kembali merasakan kejayaan dan kewibawaanya,” jelas beliau.

Syaikh ‘Ashim Ahmad, sebagai narasumber ke dua, membahas lebih spesifik lagi tentang masalah pemuda kontemporer terutama menyangkut internet dan dunia sosial. Beliau memulai dengan menerangkan tentang pentingnya menggunakan waktu sebaik-baiknya. Beliau menyitir hadis tentang penggunaan lima waktu sebelum datang waktu yang lain. Yang di antaranya ialah masa muda sebelum datang masa tua dan masa lapang sebelum masa sempit.

“Waktu adalah modal, maka jika kehilangan modal kita akan merugi. Dan kita akan mempertanggung jawabkan modal yang diberikan kepada kita,” papar beliau.

Pemuda harus memanfaatkan waktunya untuk kebaikan. Hidup di dunia sosmed harus mampu mengatur waktu dengan baik, jangan sampai menghabiskan waktu hanya dengan internet. Beliau mengutip ungkapan Abdullah Ibnu Mas’ud yang berkata, “Tidak hal yang paling membuatku menyesal kecuali ketika matahari terbenam sedangkan umurku berkurang dan amal kebaikanku tidak bertambah.”

Beliau menekankan ketika bermain sosmed agar menyebarkan paham Islam yang moderat, contoh-contoh akhlak yang terdapat dalam hadis, mengajak kepada kebaikan dan mencegah yang mungkar.

Narasumber terakhir, Syaikh Husain Al Faraj, menjelaskan tentangan pemuda dewasa ini. “Pemuda harus menjauhi paham yang mengarah pada terorisme, paham yang ekstrim di mana paham ini memerangi Islam atas nama Islam, memerangi agama atas nama agama,” terang beliau.

Pemuda harus mengikuti akhlak Rasulullah, yang mencintai manusia apapun agamanya. Dan Nabi tidak pernah memerangi manusia kecuali kalau diperangi. Beliau mengingatkan tentang pentingnya memahami al Qur’an bukan hanya sekadar membacanya. Karena banyak orang yang membaca al Qur’an hanya sampai kerongkongan saja dan tidak memahaminya sampai ke dalam jiwa. Sehingga yang terjadi ialah mereka memerang sesama kaum muslim kalau memiliki pendapat berbeda dengan mereka.

Acara ini diakhiri dengan pertanyaan dari peserta dan doa yang dipimpin oleh Ust. Dahuri, Wakil Direktur Ma’had PTIQ Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *