PTIQ Jakarta Gagas Tafsir Kebangsaan

PTIQ Jakarta Gagas Tafsir Kebangsaan

Lembaga Pengkajian Al Qur’an dan Tafsir (eLKAF), Institut PTIQ Jakarta, menggelar seminar nasional pada hari Sabtu (3/3/2018). Seminar yang bertajuk “Menuju Tafsir Kebangsaan: Ontologi, Epistemologi, & Aksiologi” ini mengundang para narasumber kredibel seperti Dr. Muhammad Zain, MA selaku Kepala Pusat Litbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kemenag RI, Dr. Aksin Wijaya, MA yang menjabat ketua Pascasarjana IAIN Ponorogo dan Jazilul Fawaid, SQ, MA yang merupakan Ketua IKAPTIQ sekaligus salah satu Anggota DPR RI.

Seminar yang bertempat di Aula Ma’had PTIQ Jakarta ini dihadiri dari berbagai kampus di sekitar Jakarta, termasuk UIN dan IIQ. Peserta sangat antusias dan semangat mengikuti seminar ini, karena tema yang diusung tergolong baru dalam dunia tafsir.

Dalam sambutannya sebagai Ketua eLKAF, Dr. A. Husnul Hakim, mengatakan bahwa kita bukan hanya orang Islam yang tinggal di Indonesia tapi kita orang Indonesia yang beragama Islam. Karena itu, pembahasan tentang kebangsaan tidak bisa dilepaskan dari kajian Islam, tidak terkecuali tafsir.

Dr. Aksin Wijaya memulai paparannya dengan mengungkapkan munculnya para ulama yang menggagas ideologi tentang pemerintahan Tuhan, di mana para ulama ini memiliki pandangan bahwa Islam kembar siam dengan politik. Di antara mereka ialah Sayyid Quthb, Al Maududi, dan Hasan Al Banna.  Di mata mereka, umat sekarang lebih jahiliah daripada umat pra Islam, karena dulu menyembah berhala sekarang yang disembah adalah gagasan. Karena itu, muncullah kemudian pemikiran di mana kekerasan termasuk bagian agama sehingga orang menjalankan kekerasan untuk merubah manusia yang menyembah kepada selain Allah di anggap sebagai menjalankan perintah Tuhan.

Dr. Aksin lantas berpandangan bahwa paham semacam ini tidak cocok jika di bawa ke Indonesia. Karena secara aksiologis, Indonesia memiliki rakyat yang moderat. Baginya, Indonesia cocok sekali dengan negara Madinah yang dipimpin Nabi Muhammad yang memiliki piagama madinah. “Paham kebangsaan kita sama dengan negara Madinah,” ungkap Aksin.

 

Hal yang menarik ketika berbicara tafsir kebangsaan, Jazilul Fawaid, menggiring gagasannya pada sumber keuangan negara dan distribusinya dalam Al Qur’an. Jazilul mempertanyakan bagaimana penerapan Fai, Ghanimah, Jizyah, dan Kharaj jika dikaitkan dengan negara Indonesia, di mana Indonesia menggunakan berbagai jenis pajak sebagai sumber kas negara.

Kalau berbicara tentang kebangsaan maka tidak terlepas dari persoalan literatur yang ada. Di Indonesia ternyata banyak sekali manuskrip-manuskrip kuno yang ditulis oleh para ulama semisal Abdullah As Sinkli dan lainnya. Sehingga berbicara tafsir kebangsaan, bagi Muhammad Zain, mau tidak mau juga harus merujuk pada literatur klasik yang ditulis oleh ulama Indonesia. Inilah yang kemudian akan membawa bukti bahwa sebenarnya rakyat Indonesia tidak terpisahkan dari paham moderat.

Hal itu juga ditegaskan oleh Rektor PTIQ, Prof. Nasaruddin Umar -yang hadir dipertengahan acara- dalam sambutannya bahwa kita harus memiliki paham yang tidak radikal, tidak memutlakkan pemahaman, tidak sempit dalam berpikir. Jangan sampai kita melihat orang dengan kacamata hitam padahal hakikatnya orang yang kita lihat berwarna-warni.

More photos klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *